keajaiban islam

Bukti Obama Yahudi/ Zionis

Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 April 2010

Persepsi

10 Kesalahan Persepsi Tentang Islam
Sukma Budi
Prakata Roger Du Pasquier pengarang buku “Unveilling Islam”

“Pihak Barat, apakah itu Kristen atau bukan, tidak pernah mengenal Islam dengan sebenar-benarnya. Sejak pihak barat mulai melihat eksistensi Islam di panggung dunia, pihak barat tidak pernah berhenti untuk terus mencerca dan memfitnah Islam dalam rangka menjustifikasi ambisi mereka untuk memerangi Islam.

Selasa, 06 April 2010

PERNAKAH ANDA BERJALAN DI ATAS DURI

Oleh Abdullah (Mahasiswa Ma’had Ali Al-Imam Asy-Syafii Jember)

Judul di atas adalah jawaban yang diberikan oleh Ka’ab Al-Ahbar kepada Umar Bin Khotob ketika beliau bertanya tentang makna takwa kepada Ka’ab. Kemudian Ka’ab berkata, “apa yang anda lakukan?” Umar pun menjawab, “Aku berhati-hati dan berusaha agar tidak tertusuk”. “itulah takwa!” jawab Ka’ab.


Rabu, 24 Maret 2010

Kisah

Artikel Kisah Islami :
AS-SIRRI AS-SAQATHI (Membebaskan Gurunya Dari Belenggu Kebodohan)
Selasa, 23 Maret 10
As-Sirri bin al-Mughlis membacakan ayat, "Dan Kami akan menghalau orang-orang yang durhaka ke Neraka jahannam dalam keadaan dahaga." (Maryam: 86) dihadapan gurunya, lalu ia bertanya, "Ustadz, siapakah yang dimaksud orang yang dahaga dalam ayat itu?" Sang guru menjawab, "Saya tidak tahu."
Kemudian ia meneruskan membaca ayat, "Mereka tidak berhak mendapat syafaat kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Allah yang Maha Penyayang." (Maryam: 87). lalu bertanya, "Wahai ustadz, apa yang dimaksud dengan perjanjian dalam ayat tersebut?" Al-Ustadz menjawab, "Aku tidak tahu!"
Seketika itu as-Sirri menghentikan bacaannya, lalu berkata, "Kenapa ustadz tidak mengetahui jawaban pertanyaanku itu? Artinya engkau menipu orang?" Sang ustadz pun memukulnya. As-Sirri berkata, "Ustadz, tidak cukupkah kebodohan dan tipuan yang engkau lakukan, sehingga engkau menambahnya dengan kezhaliman dan menyakiti orang?"
Dari peristiwa ini, sang ustadz dapat mengambil pelajaran dan bertaubat kepada Allah atas kesalahannya dalam menyampaikan pengajaran. Beliau mulai giat lagi belajar, bahkan beliau berkata bahwa as-Sirri adalah yang membebaskannya dari belenggu kebodohan.
Di usianya yang masih muda ketika ia sudah hafal surat as-Sajdah ayat 16, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya," dia tidak mau meletakkan lambungnya di atas tanah untuk tidur. Seringkali Ibunya menaruh bantal-bantal di sebelah kanan, kiri dan belakangnya. Jika anaknya mengantuk ibunyalah yang memeganginya.
Sumber : Anba’ Nujabail Abna’, hal. 192

Materi Khutbah

<!-- --- HEADER selesai --->


Artikel Khutbah Jum'at :
MERAIH SURGA DENGAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Rabu, 24 Maret 10
Oleh: Ahmad Fadhilah Barobba', Lc.

KHUTBAH PERTAMA :
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ.


Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak dan mengingatkan diri khatib sendiri serta jamaah pada umumnya agar senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu Wata’ala, dengan melaksanakan ketaatan kepadaNya sesuai dengan nur atau cahaya dari Allah Subhanahu Wata’ala yang telah disampaikan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, karena kita mengharapkan ridha dan pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala, dan kita tinggalkan maksiat kepada Allah Subhanahu Wata’ala sesuai dengan nur yang telah disampaikan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam karena kita takut akan azab dan siksaNya. Dan kita jadikan takwa ini sebagai bekal kita dalam mengarungi kehidupan, baik di dunia yang fana ini atau di akhirat yang kekal kelak, karena dia adalah sebaik baik bekal. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
"Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa."

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَاْلأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa." (Ali Imran: 133).
Dan dalam ayat lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

خِتَامُهُ مِسْكُُوَفيِ ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ
"Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (Al-Muthaffifin: 26).
Dan dalam ayat lain Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

لِمِثْلِ هَذَا فَلْيَعْمَلِ الْعَامِلُونَ
"Untuk kemenangan serupa ini, hendaklah orang-orang yang be-kerja berusaha." (Ash-Shaffat: 61).
Dalam ketiga ayat ini, Allah Subhanahu Wata’ala menyuruh kita untuk berlomba-lomba atau bersegera dalam mendapatkan surgaNya, namun yang menjadi pertanyaan sekarang adalah dengan apa surga itu diraih?

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Rahimakumullah
Ada beberapa jalan untuk meraih surga, dan di antara jalan itu adalah taat kepada orang tua. Dan cukup banyak ayat-ayat al-Qur`an yang menerangkan tentang itu. Bahkan dalam beberapa ayat, Allah Subhanahu Wata’ala merangkaikan ketaatan kepada orang tua dengan beribadah kepadaNya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun." (An-Nisa`: 36).
Dan dalam suatu surat, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." (Al-Isra`: 23).
Diulang-ulangnya ayat yang menerangkan berbuat baik kepada orang tua, dan dirangkaikannya ketaatan kepada keduanya dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala menunjukkan tentang keutamaan berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain).
Hal ini juga didukung dengan beberapa hadits Nabi sallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkan tentang keutamaan birrul walidain. Di antara hadits itu adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلّم فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ؟ قَالَ: أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ: ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أَبُوْكَ.
"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam , lalu bertanya, 'Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling berhak aku pergauli dengan baik?' Rasulullah menjawab, 'Ibumu'. Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Rasulullah menjawab, 'Kemudian ibumu'. Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Rasulullah menjawab, 'Kemudian ibumu.' Dia bertanya lagi, 'Kemudian siapa?' Rasulullah menjawab, 'Kemudian bapakmu'." (HR. al-Bukhari, no. 5971; dan Muslim, no. 2548).
Dan dalam hadits lain disebutkan :

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ الله صلى الله عليه وسلّم يَسْتَأْذِنُهُ فِي الْجِهَادِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلّم: أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله صلى الله عليه وسلّم: فَفِيْهِمَا فَجَاهِدْ.
"Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam meminta izin kepada-nya untuk ikut berjihad. Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, 'Apakah kedua orang tuamu masih hidup?' Dia menjawab, 'Ya.' Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, 'Berjihadlah (dengan berbakti ) pada keduanya'." (HR. al-Bukhari, no. 3004; dan Muslim, no. 2549).

Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Keutamaan birrul walidain yang lain adalah bahwa hal itu merupakan sifat para Nabi ‘alaihimussalam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam :

رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلاَتَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلاَّ تَبَارًا
"Ya Rabbku ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan." (Nuh: 28).
Allah Subhanahu Wata’ala juga mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam yang memintakan ampun untuk bapaknya dengan FirmanNya :

قَالَ سَلاَمٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا
"Ibrahim berkata, 'Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia sangat baik kepadaku'." (Maryam: 47).
Juga pujian Allah kepada Nabi Yahya ‘alaihissalam :

وَبَرَّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا
"Dan banyak berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan-lah orang yang sombong lagi durhaka." (Maryam: 14).
Juga pujian Allah kepada Nabi Isa ‘alaihissalam :

وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا
"Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai seorang yang sombong lagi celaka." (Maryam : 32)
Itulah sirah dan sikap para nabi kepada orang tua mereka, dan jalan mereka itulah jalan yang lurus (shirath al-Mustaqim) yang selalu kita minta dalam shalat kita.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
"Tunjukilah kami jalan yang lurus." (Al-Fatihah: 6).
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَمَن يُطِعِ اللهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلاَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَآءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُوْلاَئِكَ رَفِيقًا
"Dan barangsiapa yang menaati Allah dan Rasul(Nya), maka me-reka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah dari kalangan para nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang yang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baiknya teman." (An-Nisa`: 69).
Dan inilah salah satu jalan untuk meraih surga.
Namun yang perlu diperhatikan adalah bahwa berbuat baik kepada keduanya bukan berarti kita harus melaksanakan semua perintah mereka.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutlah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah kembalimu, maka Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (Luqman: 15).
Sa'ad bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, "Ayat ini diturunkan berkaitan dengan masalahku." Dia berkata, "Aku adalah seorang yang berbakti kepada ibuku, maka tatkala aku masuk Islam, dia berkata, 'Wahai Sa'ad, apa hakikat yang aku lihat pada agama barumu? Tinggalkan agama barumu itu, kalau tidak, aku tidak akan makan dan minum sampai aku mati sehingga kamu dicela dengan sebab kematianku, dan kamu akan dipanggil dengan 'Wahai pembunuh ibunya'. Maka aku katakan kepadanya, 'Jangan kamu lakukan wahai ibuku, karena aku tidak akan meninggalkan agamaku ini untuk siapa pun juga. Maka dia (ibu Sa'ad) diam, tidak makan selama sehari semalam, maka dia kelihatan sudah payah. Kemudian dia tidak makan sehari semalam lagi, maka kelihatan semakin payah. Maka tatkala aku melihatnya, aku berkata kepadanya, 'Hendaklah kamu tahu wahai ibuku, seandainya kamu memiliki seratus nyawa, dan nyawa itu melayang satu demi satu, maka tidak akan aku tinggalkan agama ini karena apa pun juga, maka kalau kau mau makan, makanlah, kalau tidak, maka jangan makan,' lantas dia pun makan." (Tafsir Ibnu Katsir).
Walaupun kita harus berbuat baik kepada keduanya, bukan berarti kita boleh memintakan ampunan kepada Allah Subhanahu Wata’ala bagi mereka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

مَاكَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَن يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُوْلِى قُرْبَى مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيمِ
"Tidak sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman untuk memintakan ampun (kepada Allah ) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabatnya, sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni Neraka Jahanam." (At-Taubah: 113).

Jamaah Jum'at Rahimakumullah
Allah Subhanahu Wata’ala menyediakan pahala yang besar bagi siapa saja yang taat pada orang tuanya. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ.
"Ridha Allah berada pada ridha orang tua dan murka Allah berada pada murka orang tua." (HR. at-Tirmidzi, no. 1899; dan dishahihkan oleh al-Albani).
Ibnu Mas'ud radhiallahu ‘anhu berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam, 'Apakah perbuatan yang paling utama?' Rasulullah menjawab, 'Iman kepada Allah dan RasulNya.' Dia bertanya, 'Kemudian apa-lagi?' Rasulullah menjawab, 'Berbuat baik kepada orang tua.' Dia bertanya, 'Kemudian apalagi?' Rasulullah menjawab, 'Berjuang di jalan Allah'." (HR. al-Bukhari, Kitab al-Hajj dan Muslim, Bab Bayan kaunil iman billah min afdhalil a'mal).
Dan pahala yang besar ini tidak mudah kita dapatkan kecuali dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban kepada orang tua kita.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala memberikan taufik dan kekuatan kepada kita semua, supaya kita bisa berbuat baik kepada kedua orang tua kita.
بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

KHUTBAH KEDUA :
اَلْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ:

Ada beberapa kewajiban kita terhadap orang tua yang mungkin dapat khatib sampaikan dengan ringkas karena keterbatasan waktu.
Yang pertama, berbuat baik kepada keduanya; baik dengan perkataan atau perbuatan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
"Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut (dalam pemeliharaanmu), maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (Al-Isra`: 23).
Yang kedua, rendah hati terhadap keduanya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ
"Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan." (Al-Isra`: 24).
Yang ketiga, mendoakan keduanya; baik semasa hidupnya ataupun sesudah meninggalnya. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
"Dan ucapkanlah, 'Wahai Tuhanku, kasihanilah mereka berdua sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil'." (Al-Isra`: 24).
Dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٌ جَارِيَةٌ أَوْ عِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ.
"Apabila anak Adam mati, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: Sedekah jariyah atau ilmu yang bermanfaat atau anak shalih yang mendoakannya." (HR. Muslim).
Yang keempat, menaati keduanya dalam kebaikan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَى أَن تُشْرِكَ بِي مَالَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلاَ تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَىَّ ثُمَّ إِلَىَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukanKu dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (Luqman: 15).
Yang kelima, memintakan ampun bagi keduanya sesudah meninggal, yaitu apabila meninggal dalam keadaan Islam. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman menceritakan tentang Nabi Ibrahim ‘alaihissalam :

رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
"Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang-orang Mukmin pada hari terjadinya hisab (kiamat)." (Ibrahim: 41).
Juga Firman Allah Subhanahu Wata’ala tentang Nabi Nuh ‘alaihissalam :

رَّبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِنًا وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلاَتَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلاَّ تَبَارًا
"Ya Rabbku, ampunilah aku, ibu bapakku, orang yang masuk ke rumahku dengan beriman dan semua orang beriman laki-laki dan perempuan, dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zhalim itu selain kebinasaan." (Nuh: 28).
Dan juga dalam hadits yang disebutkan tadi.
Yang keenam, melunasi hutangnya dan melaksanakan wasiatnya, selama tidak bertentangan dengan syari'at. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan ucapan seorang wanita yang berpendapat bahwa hutang ibunya wajib dilunasi, dan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam menambahkan bahwa hutang kepada Allah Subhanahu Wata’ala berupa puasa nadzar, lebih berhak untuk dilunasi.
Yang ketujuh, menyambung tali kekerabatan mereka berdua, seperti paman dan bibi dari kedua belah pihak, kakek dan nenek dari kedua belah pihak. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيْهِ.
"Sesungguhnya sebaik-baik hubungan silaturahim adalah hubungan silaturahim seorang anak dengan teman dekat bapaknya." (HR. Muslim).
Yang kedelapan, memuliakan teman-teman mereka berdua. Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam memuliakan teman-teman istrinya tercinta Khadijah radhiallahu ‘anha, maka kita muliakan pula teman-teman istri kita. Dan teman-teman orang tua kita lebih berhak kita muliakan, karena di dalamnya ada penghormatan kepada orang tua kita.
Semoga Allah Subhanahu Wata’ala tidak menjadikan kita semua termasuk orang-orang yang mendapati masa tua orang tuanya, namun kita tidak bisa berbuat baik kepadanya, karena berbakti kepada keduanya adalah salah satu jalan untuk meraih surga.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللهم اغْـفِـرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْـفِـرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى. اللهم إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ. وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَصَلى الله عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

( Dikutip dari buku : Kumpulan Khutbah Jum’at Pilihan Setahun Edisi Kedua, Darul Haq, Jakarta. Diposting oleh Wandy Hazar S.Pd.I )

Senin, 22 Maret 2010

Generasi Pengikut Syahwat

Generasi meninggalkan Shalat & Mengikuti Syahwat
smpitalhidayah, Jumat, 19 Maret 2010

Allah Ta’ala berfirman:
"Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memper-turutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun." (terjemah QS. Maryam: 58-60).

Ibnu Katsir menjelaskan, generasi yang adhoo’ush sholaat itu, kalau mereka sudah menyia-nyiakan sholat, maka pasti mereka lebih menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah tiang agama dan pilarnya, dan sebaik-baik perbuatan hamba. Dan akan tambah lagi (keburukan mereka) dengan mengikuti syahwat dunia dan kelezatannya,, senang dengan kehidupan dan kenikmatan dunia. Maka mereka itu akan menemui kesesatan,, artinya kerugian di hari qiyamat.

Adapun maksud lafazh Adho’us sholaat ini, menurut Ibnu Katsir, ada beberapa pendapat. Ada orang-orang yang berpendapat bahwa adho'us sholaat itu meninggalkan sholat secara keseluruhan (tarkuhaa bilkulliyyah). Itu adalah pendapat yang dikatakan oleh Muhammad bin Ka’ab Al-Quradhi, Ibnu Zaid bin Aslam, As-Suddi, dan pendapat itulah yang dipilih oleh Ibnu Jarir. Pendapat inilah yang menjadi pendapat sebagian orang salaf dan para imam seperti yang masyhur dari Imam Ahmad, dan satu pendapat dari As-Syafi’i sampai ke pengkafiran orang yang meninggalkan shalat (tarikus sholah) setelah ditegakkan, iqamatul hujjah (penjelasan dalil), berdasarkan Hadits:
بَيْنَ الْعَبْدِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ تَرْكُ الصَّلاَةِ (رواه مسلم في صحيحه برقم: 82 من حديث جابر).
“(Perbedaan) antara hamba dan kemusyrikan itu adalah meninggalkan sholat.” (HR Muslim dalam kitab Shohihnya nomor 82 dari hadits Jabir).

Dan Hadits lainnya:
الْعَهْدُ الَّذِيْ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاَةُ، فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ. (رواه الترمذي رقم 2621 والنسائ 1/231 ،وقال الترمذي :هذا حديث حسن صحيح غريب).

“Batas yang ada di antara kami dan mereka adalah sholat, maka barangsiapa meninggalkannya, sungguh-sungguh ia telah kafir.” (Hadits Riwayat At-Tirmidzi dalam Sunannya nomor 2621dan An-Nasaai dalam Sunannya 1/231, dan At-Tirmidzi berkata hadits ini hasan shohih ghorib).
Tafsir Ibnu Katsir, tahqiq Sami As-Salamah, juz 5 hal 243).

Penuturan dalam ayat Al-Quran ini membicarakan orang-orang saleh, terpilih, bahkan nabi-nabi dengan sikap patuhnya yang amat tinggi. Mereka bersujud dan menangis ketika dibacakan ayat-ayat Allah. Namun selanjutnya, disambung dengan ayat yang memberitakan sifat-sifat generasi pengganti yang jauh berbeda, bahkan berlawanan dari sifat-sifat kepatuhan yang tinggi itu, yakni sikap generasi penerus yang menyia-nyiakan shalat dan mengumbar hawa nafsu.

Betapa menghujamnya peringatan Allah dalam Al-Quran dengan cara menuturkan sejarah "keluarga pilihan" yang datang setelah mereka generasi manusia bobrok yang sangat merosot moralnya. Bobroknya akhlaq manusia dari keturunan orang yang disebut manusia pilihan, berarti merupakan tingkah yang keterlaluan. Bisa kita bayangkan dalam kehidupan ini. Kalau ada ulama besar, saleh dan benar-benar baik, lantas keturunannya tidak bisa menyamai kebesarannya dan tak mampu mewarisi keulamaannya, maka ucapan yang pas adalah:. "Sayang, kebesaran bapaknya tidak diwarisi anak-anaknya.” Itu baru masalah mutu keilmuan nya yang merosot. lantas, kata dan ucapan apa lagi yang bisa untuk menyayangkan bejat dan bobroknya generasi pengganti orang-orang suci dan saleh itu? Hanya ucapan “seribu kali sayang” yang mungkin bisa kita ucapkan.
Setelah kita bisa menyadari betapa tragisnya keadaan yang dituturkan Al-Quran itu, agaknya perlu juga kita bercermin di depan kaca. Melihat diri kita sendiri, dengan memperbandingkan apa yang dikisahkan Al-Quran.

Kisah ayat itu, tidak menyinggung-nyinggung orang-orang yang membangkang di saat hidupnya para Nabi pilihan Allah. Sedangkan jumlah orang yang membangkang tidak sedikit, bahkan melawan para Nabi dengan berbagai daya upaya. Ayat itu tidak menyebut orang-orang kafir, bukan berarti tidak ada orang-orang kafir. Namun dengan menyebut keluarga-keluarga pilihan itu justru merupakan pengkhususan yang lebih tajam. Di saat banyaknya orang kafir berkeliaran di bumi, saat itu ada orang-orang pilihan yang amat patuh kepada Allah. Tetapi, generasi taat ini diteruskan oleh generasi yang bobrok akhlaqnya. Ini yang jadi masalah besar.

Dalam kehidupan yang tertera dalam sejarah kita, Muslimin yang taat, di saat penjajah berkuasa, terjadi perampasan hak, kedhaliman merajalela dan sebagainya, ada tanam paksa dan sebagainya; mereka yang tetap teguh dan ta'at pada Allah itu adalah benar-benar orang pilihan. Kaum muslimin yang tetap menegakkan Islam di saat orientalis dan antek-antek penjajah menggunakan Islam sebagai sarana penjajahan, namun kaum muslimin itu tetap teguh mempertahankan Islam dan tanah airnya, tidak hanyut kepada iming-iming jabatan untuk ikut menjajah bangsanya, mereka benar-benar orang-orang pilihan.

Sekalipun tidak sama antara derajat kesalehan para Nabi yang dicontohkan dalam Al-Quran itu, dengan derajat ketaatan kaum Muslimin yang taat pada Allah di saat gencarnya penjajahan itu, namun alur peringatan ini telah mencakupnya. Dengan demikian, bisa kita fahami bahwa ayat itu mengingatkan, jangan sampai terjadi lagi apa yang telah terjadi di masa lampau. Yaitu generasi pengganti yang jelek, yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsunya.

Peringatan yang sebenarnya tajam ini perlu disebar luaskan, dihayati dan dipegang benar-benar, dengan penuh kesadaran, agar tidak terjadi tragedi yang telah menimpa kaum Bani Israel, yaitu generasi jelek, bobrok, meninggalkan shalat dan mengikuti syahwat.

Memberikan hak shalat
Untuk itu, kita harus mengkaji diri kita lagi. Sudahkan peringatan Allah itu kita sadari dan kita cari jalan keluarnya?
Mudah-mudahan sudah kita laksanakan. Tetapi, tentu saja bukan berarti telah selesai. Karena masalahnya harus selalu dipertahankan. Tanpa upaya mempertahankannya, kemungkinan akan lebih banyak desakan dan dorongan yang mengarah pada "adho'us sholat" (menyia-nyiakan atau meninggalkan shalat) wattaba'us syahawaat (dan mengikuti syahwat hawa nafsu).

Suatu misal, kasus nyata, bisa kita telusuri lewat pertanyaan-pertanyaan. Sudahkah kita berikan dan kita usahakan hak-hak para pekerja/ buruh, pekerja kecil, pembantu rumah tangga, penjaga rumah makan, penjaga toko dan sebagainya untuk diberi kebebasan mengerjakan shalat pada waktunya, terutama maghrib yang waktunya sempit? Berapa banyak pekerja kecil semacam itu yang terhimpit oleh peraturan majikan, tetapi kita umat Islam diam saja atau belum mampu menolong sesama muslim yang terhimpit itu?

Bahkan, dalam arena pendidikan formal, yang diseleng-garakan dengan tujuan membina manusia yang bertaqwa pun, sudahkah memberi kebebasan secara baik kepada murid dan guru untuk menjalankan shalat? Sudahkah diberi sarana secara memadai di kampus-kampus dan tempat-tempat pendidikan untuk menjalan-kan shalat? Dan sudahkah para murid itu diberi bimbingan secara memadai untuk mampu mendirikan shalat sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam ?
Kita perlu merenungkan dan menyadari peringatan Allah dalam ayat tersebut, tentang adanya generasi yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat.

Ayat-ayat Al-Quran yang telah memberi peringatan dengan tegas ini mestinya kita sambut pula dengan semangat menang-gulangi munculnya generasi sampah yang menyianyiakan shalat dan bahkan mengumbar syahwat. Dalam arti penjabaran dan pelaksanaan agama dengan amar ma'ruf nahi munkar secara konsekuen dan terus menerus, sehingga dalam hal beragama, kita akan mewariskan generasi yang benar-benar diharapkan, bukan generasi yang bobrok seperti yang telah diperingatkan dalam Al-Quran itu.

Fakir miskin, keluarga, dan mahasiswa
Dalam hubungan kemasyarakatan yang erat sekali hubungannya dengan ekonomi, terutama masalah kemiskinan, sudahkah kita memberi sumbangan sarung atau mukena/ rukuh kepada fakir miskin, agar mereka bisa tetap shalat di saat mukenanya yang satu-satunya basah ketika dicuci pada musim hujan?

Dalam urusan keluarga, sudahkah kita selalu menanya dan mengontrol anak-anak kita setiap waktu shalat, agar mereka tidak lalai?
Dalam urusan efektifitas da’wah, sudahkah kita menghidup-kan jama'ah di masjid-masjid kampus pendidikan Islam: IAIN (Institut Agama Islam Negeri) ataupun STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) yang jelas-jelas mempelajari Islam itu, agar para alumninya ataupun mahasiswa yang masih belajar di sana tetap menegakkan shalat, dan tidak mengarah ke pemikiran sekuler yang nilainya sama juga dengan mengikuti syahwat?
Lebih penting lagi, sudahkah kita mengingatkan para pengurus masjid atau mushalla atau langgar untuk shalat ke masjid yang diurusinya? Bahkan sudahkah para pegawai yang kantor-kantor menjadi lingkungan masjid, kita ingatkan agar shalat berjamaah di Masjid yang menjadi tempat mereka bekerja, sehingga tidak tampak lagi sosok-sosok yang tetap bertahan di meja masing-masing --bahkan sambil merokok lagi-- saat adzan dikuman-dangkan?

Masih banyak lagi yang menjadi tanggung jawab kita untuk menanggulangi agar tidak terjadi generasi yang meninggalkan shalat yang disebut dalam ayat tadi.

Shalat, tali Islam yang terakhir
Peringatan yang ada di ayat tersebut masih ditambah dengan adanya penegasan dari Rasulullah, Muhammad Shallallaahu alaihi wa Salam
لَيَنْقُضَنَّ عُرَا اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضًا الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ. (رواه أحمد).
“Tali-tali Islam pasti akan putus satu-persatu. Maka setiap kali putus satu tali (lalu) manusia (dengan sendirinya) bergantung dengan tali yang berikutnya. Dan tali Islam yang pertamakali putus adalah hukum(nya), sedang yang terakhir (putus) adalah shalat. (Hadits Riwayat Ahmad dari Abi Umamah menurut Adz – Dzahabir perawi Ahmad perawi).

Hadits Rasulullah itu lebih gamblang lagi, bahwa putusnya tali Islam yang terakhir adalah shalat. Selagi shalat itu masih ditegakkan oleh umat Islam, berarti masih ada tali dalam Islam itu. Sebaliknya kalau shalat sudah tidak ditegakkan, maka putuslah Islam keseluruhannya, karena shalat adalah tali yang terakhir dalam Islam. Maka tak mengherankan kalau Allah menyebut tingkah "adho'us sholah" (menyia-nyiakan/ meninggalkan shalat) dalam ayat tersebut diucapkan pada urutan lebih dulu dibanding "ittaba'us syahawaat" (menuruti syahwat), sekalipun tingkah menuruti syahwat itu sudah merupakan puncak kebejatan moral manusia. Dengan demikian, bisa kita fahami, betapa memuncaknya nilai jelek orang-orang yang meninggalkan shalat, karena puncak kebejatan moral berupa menuruti syahwat pun masih pada urutan belakang dibanding tingkah meninggalkan shalat.

Di mata manusia, bisa disadari betapa jahatnya orang yang mengumbar hawa nafsunya. Lantas, kalau Allah memberikan kriteria meninggalkan shalat itu lebih tinggi kejahatannya, berarti kerusakan yang amat parah. Apalagi kalau kedua-duanya, dilakukan meninggalkan shalat, dan menuruti syahwat, sudah bisa dipastikan betapa beratnya kerusakan.

Tiada perkataan yang lebih benar daripada perkataan Allah dan Rasul-Nya. Dalam hal ini Allah dan Rasul-Nya sangat mengecam orang yang meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Maka marilah kita jaga diri kita dan generasi keturunan kita dari kebinasaan yang jelas-jelas diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya itu. Mudah-mudahan kita tidak termasuk mereka yang telah dan akan binasa akibat melakukan pelanggaran amat besar, yaitu meninggalkan shalat dan menuruti syahwat. Amien.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ.
Khutbah Kedua

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا} وَقَالَ: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ وَيُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا}
ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Oleh: H. Hartono Ahmad Jaiz

Pertemuan Abadi

Janji Bertemu Di Surga
smpitalhidayah, Selasa, 23 Maret 2010

Al-Mubarrid menyebutkan dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja' bin Amr An-Nakha'i, ia berkata: "Adalah di Kufah, terdapat pemuda tampan, dia kuat beribadah dan sangat rajin. Suatu saat dia mampir berkunjung ke kampung dari Bani An-Nakha'. Dia melihat seorang wanita cantik dari mereka sehingga dia jatuh cinta dan kasmaran. Dan ternyata, si wanita cantik ini pun begitu juga padanya. Karena sudah jatuh cinta, akhirnya pemuda itu mengutus seseorang melamarnya dari ayahnya. Tetapi si ayah mengabarkan bahwa putrinya telah dijodohkan dengan sepupunya. Walau demikian, cinta keduanya tak bisa padam bahkan semakin berkobar. Si wanita akhirnya mengirim pesan lewat seseorang untuk si pemuda, bunyinya, 'Aku telah tahu betapa besar cintamu kepadaku, dan betapa besar pula aku diuji dengan kamu. Bila kamu setuju, aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk datang menemuiku di rumahku'. Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhannya, 'Aku tidak setuju dengan dua alternatif itu:

''Sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. (Yunus: 15).

Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.'

Ketika disampaikan pesan tadi kepada si wanita, dia berkata: "Walau demikian, rupanya dia masih takut kepada Allah? Demi Allah, tak ada seseorang yang lebih berhak untuk bertakwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama-sama berhak untuk itu." Kemudian dia meninggalkan urusan dunia dan menyingkirkan perbuatan-perbuatan buruknya serta mulai beribadah mendekatkan diri kepada Allah. Akan tetapi, dia masih menyimpan perasaan cinta dan rindu pada sang pemuda. Tubuhnya mulai kurus dan kurus menahan perasaan rindunya, sampai akhirnya dia meninggal dunia karenanya. Dan si pemuda itu seringkali berziarah ke kuburannya, dia menangis dan mendo'akannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburannya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi dia sempat bertanya: "Bagaimana keadaanmu? Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?"

Dia menjawab: "Sebaik-baik cinta wahai orang yang bertanya adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat menggiring menuju kebaikan".

Pemuda itu bertanya: "Jika demikian, kemanakah kau menuju?"

Dia jawab: "Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di Surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak."

Pemuda itu berkata: "Aku harap kau selalu ingat padaku di sana, sebab aku di sini juga tidak melupakanmu." Dia jawab: "Demi Allah, aku juga tidak melupakanmu. Dan aku meminta kepada Tuhanku dan Tuhanmu (Allah Subha-nahu wa Ta'ala) agar kita nanti bisa dikumpulkan. Maka, bantulah aku dalam hal ini dengan kesungguhanmu dalam ibadah."

Si Pemuda bertanya: "Kapan aku bisa melihatmu?" Jawab si wanita: "Tak lama lagi kau akan datang melihat kami." Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda dipanggil oleh Allah menuju kehadiratNya, meninggal dunia.

Jumat, 12 Maret 2010

Intisari Islam

Makassar, 18 Sept 2007 - 6 Ramadhan 1428

Tulisan ini adalah tulisan rintisan. Bermaksud untuk mengeluarkan intisari ajaran Islam yang terdapat dalam ribuan ayat Al-Quran dan Hadits.

Fungsinya, untuk memudahkan setiap individu muslim atau non muslim; muallaf atau non muallaf dalam mempelajari dan memahami keseluruhan ajaran Islam dalam waktu yang singkat.

Tujuan umum tulisan ini adalah untuk mengingatkan setiap individu bahwa misinya di dunia ini adalah:

"meraih hasanah di dunia dan hasanah di akhirat"

Mengingat bahwa tulisan ini adalah tulisan rintisan, maka Anda akan menemukan penambahan, pengurangan, maupun penyempurnaan setiap waktu.

Bagian Pertama: Kematian dan Pasca Kematian

Tujuan dari bagian ini adalah mengidentifikasi bahwa setiap muslim hendaknya mengingat dua hal berikut ini.

1. Bahwa setelah wafat, ada masih ada peluang untuk 'mendulang pahala'.

2. Akhir hidup seorang muslim hendaknya dalam kondisi "syahadah" (atau lebih populer dengan istilah "mati syahid).

Dengan berorientasi kepada kedua hal di atas, berarti seorang muslim telah 'merencanakan' akhir yang bahagia (happy ending, husn al-khatimah).


Bagian Kedua: Menjalani Hidup yang Islami

Tantangan yang ingin dijawab pada bagian kedua ini adalah : bagaimana setiap individu bisa menikmati "hidup yang hasanah" di dunia ini.

Secara umum, kondisi hidup yang hasanah di dunia dipahami dengan terpenuhinya seluruh kebutuhan individu dengan cara (jalan, metode, sistem, thariqah, sabil/subul, shirath) yang "Islamy".

Menariknya, setiap upaya individu untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya di dunia ini dengan cara yang islamy akan digelari dengan sebutan "ibadah".

Dengan kata lain, "ibadah" dalam konteks pembicaraan ini, bermakna "segala upaya pemenuhan kebutuhan hidup di dunia secara islamy".

Ragam Kebutuhan

1. Rasa damai, tenang, bahagia, aman. Kebutuhan ini bolehlah kita beri nama dengan kebutuhan spiritual.

2. Berinteraksi dengan orang lain. Kebutuhan ini kita beri nama kebutuhan sosial(isasi).

3. Mendapatkan dan memberikan informasi (pengetahuan dan keterampilan). Kita beri nama kebutuhan ini dengan kebutuhan intelektual.

4. Kesehatan, kebugaran, dan keindahan fisik/tubuh. Ini adalah kebutuhan jasmani/fisikal.

Ciri Seorang Muslim

Kondisi terpenuhinya kebutuhan di atas bisa digunakan untuk merumuskan 'identitas' (ciri-ciri) sejati seorang muslim. Seorang muslim adalah seorang yang:

* memancarkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan
* luas pergaulannya dan bermanfaat bagi orang banyak
* cerdas dan terampil
* kaya serta sehat dan bugar

(Kita bisa, jika ingin, memperpanjang daftar di atas dengan menguraikan ciri-ciri yang sudah disebutkan dalam empat poin tersebut. Kita juga bisa memasukkan ciri khas seorang muslim ketika ia wafat: tidak tampak penderitaan di wajahnya, tercium aroma wangi yang khas baik di sekitar tempat ia meninggal atau di makamnya)


Aktifitas Pemenuhan Kebutuhan

1. Kebutuhan spiritual dipenuhi dengan cara "zikr" dan "syukr".

2. Kebutuhan sosial dipenuhi dengan cara: a) mengamati/memperhatikan, b) mendengarkan, c) berbicara, dan d) membantu orang lain.

3. Kebutuhan intelektual dipenuhi dengan cara: a) membaca, b) menulis, c) mencoba, dan d) mengajar.

4. Kebutuhan jasmani dipenuhi dengan cara: a) 'bekerja' untuk memperoleh uang, b) makan-minum yang halal lagi thayyib, c) membersihkan dan 'memperindah' bagian dalam dan luar tubuh, d) 'bekerja' untuk memperoleh dan meningkatkan kesehatan serta kebugaran tubuh

Al-Quran dan Hadits berisi informasi seputar "aktifitas" pemenuhan kebutuhan di atas.

Ada aktifitas yang prosedur pelaksanaannya (kondisi, syarat) dijelaskan secara terperinci dan 'ketat'. Ketat dalam pengertian penjelasan tersebut sedemikian jelasnya hingga tidak menimbulkan 'penafsiran' yang berbeda atau beragam bagi yang membacanya.

Di sisi lain, tidak sedikit pula aktifitas yang aturannya dijelaskan secara umum dan 'longgar'.

Tidak boleh dilupakan, bahwa beberapa aktiftas pemenuhan kebutuhan adalah "khas Islam". Maksudnya, prosedur atau aturan aktifitas tersebut hanya ada dan diakui dalam Islam. Misalnya, zikr. Aktifitas ini adalah "khas Islam". Ia bukanlah "meditasi", meski ada element meditasi yang disebut 'mirip' dengan prosedur berzikr.

Nah, aktifitas yang khas Islam pada umumnya dijelaskan secara terperinci dan ketat. Keterlibatan 'kreatifitas' individu untuk menciptakan prosedur, aturan, atau cara baru dalam konteks ini sangatlah minimal (untuk tidak mengatakan tidak ada sama sekali atau dilarang. Lihat: bid'ah).


Sebaliknya, aktifitas pemenuhan kebutuhan yang tidak khas Islam, pada umumnya dijelaskan secara umum dan longgar. Seperti aktifitas memelihara kebersihan tubuh dan lingkungan. Di sinilah keterlibatan kreatifitas manusia untuk membuat prosedur, aturan, atau cara dibuka luas (untuk tidak mengatakan dianjurkan/disunnahkan atau diperintahkan/diwajibkan)

Keseluruhan aktifitas pemenuhan kebutuhan di atas untuk selanjutnya kita sebut dengan 'amal.

Amal Shalih vs Amal Thalih

'Amal, sebagaimana umum diketahui, ada yang sifatnya shalih dan ada pula yang thalih (tidak shalih). Ada cara 'bekerja' untuk memperoleh uang yang shalih dan ada yang thalih.

Kita menggunakan kata 'shalih' untuk menunjukkan bahwa kategori 'baik' di sini tidak saja baik dari sisi 'hukum'-nya (wajib atau haram; kategorisasi syariah atau fiqh) tetapi juga baik dari sisi 'moral/akhlaq' -nya (dianjurkan atau tidak dianjurkan).

Di masa depan, ketika kita menemukan 'perintah' untuk beramal shalih, maknailah dengan: perintah untuk memenuhi kebutuhan kita (dan bukannya kebutuhan Allah) secara shalih.

Jika Anda menemukan perintah 'berzikr', maka maknailah dengan: Allah swt memerintahkan Anda untuk memenuhi kebutuhan Anda, yaitu memperoleh dan menikmati ketenangan.

Amal yang Diperintahkan dan yang Dilarang

Ada aktifitas pemenuhan kebutuhan yang diperintahkan dan ada yang dilarang. Ada 'amal yang diperintahkan untuk dikerjakan dan ada pula 'amal yang dilarang untuk dikerjakan, meski kalau dikerjakan akan mampu memenuhi kebutuhan.

Hasil Amal Shalih: Kuantitas dan Kualitas

* Hasil berzikr adalah ketenangan, kedamaian diri.
* Hasil bersyukur adalah bertambahnya ni'mat yang akan diterima
* Hasil bershilaturrahim adalah rezeki yang lancar
* Hasil belajar dan mengajar adalah...
* Hasil bekerja adalah uang
* Hasil makan-minum adalah kesehatan dan kebugaran
* Hasil berolahraga adalah kesehatan dan kebugaran
* Hasil memelihara kebersihan dan keindahan tubuh dan lingkungan sekitar adalah...

Pada zaman ini, segala sesuatunya hampir bisa diukur dengan angka, diberi peringkat, dan diperlombakan.

Bila seorang muslim bersungguh-sungguh (baca: berlomba-lomba) dalam memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia ini, maka kesungguhannya itu akan menjadikannya sebagai individu yang sangat produktif. Kondisi ini sudah mendekati kondisi "hasanah di dunia".


Nilai Amal Shalih: Duniawi vs Ukhrawi

(Rujukan: Duniawi vs Ukhrawi)

Adalah keyakinan seorang muslim bahwa hidupnya di dunia ini akan ia lanjutkan di akhirat (setelah 'meninggalkan dunia')

Kata duniawi bermakna bersifat dunia, keduniawian. Sementara kata ukhrawi bermakna bersifat akhirat, keakhiratan. AKhirat yang dimaksud di sini adalah jannah (surga) dan bukan naar (neraka).

Kata dunia juga bisa dimaknai dengan 'dekat' sebagai lawan dari akhirat, 'jauh'.

Jika kita menempatkan keduanya dalam konteks tujuan, maka kata dunia bermakna tujuan jangka pendek dan kata akhirat bermakna tujuan jangka panjang. Individu disebut berorientasi duniawi jika ia menetapkan tujuan

Meski suatu amal dikerjakan secara shalih, namun belum tentu amal tersebut bernilai ukhrawi, atau bahasa awamnya: diterima Allah; memperoleh pahala.

Memenuhi kebutuhan hidup di dunia tidak selalu bernilai 'duniawi'. Terkadang, sebuah aktifitas ('amal) yang tidak ada aturannya (baca: hukumnya, prosedurnya, syarat, dan rukunnya) dalam Al-Quran dan Hadits bisa bernilai ukhrawi.

Pendorong dan Pencegah Amal Shalih

Apa yang mencegah seseorang dari memenuhi kebutuhannya secara shalih?

* Malas, Manja/tidak ingin mersusah payah, bekerja keras
* Tidak mengetahui cara yang shalih